Formulasi matematis dan metode proses hirarki analitik adalah hasi perbandingan berpasangan, pada himpunan kriteria atau himpunan alternatif dimana nilai-niiai perbandingan berpasangan diberikan dalam matrik yang berukuran n x n sebagai matrik A berikut (Jani Rahardjo, Ronald E Stok, danRosa Yustina, "Penerapan Multi-Criteria Decision Making Dalam Pengambilan Keputusan Sistem Perawatan" Jurnal Teknik lndustri Vol. 2, No. 1, Juni 2000,hlm. 34-42): Dimana : -a11=1 -jika aij=a maka aji= 1/a ,a ¹O jika Ci dinyatakan "sama pentingnya (equally importance)" terhadap Cj,maka aij=aji= 1 Selanjutnya dan matriks perbandingan berpasangan tersebut akan dicari bobot dari tiap-tiap kriteria yaitu Wi, dengan cara menormalkan rata-rata geometrik (geometric mean) dengan rumusan sebagai berikut: Di dalam analisa multi kriteria ganda diperhitungkan juga kriteria kualitatif yang memungkinkan terjadinya ketidakkonsistensian (inconsistency) dalam penilaian perbandingan kriteria-kniteria atau alternatif- alternatif keputusan perbandingan yang diambil dikatakan "perfectly consistence" jika dan hanya jika aik, akj=aij, " i, j, k = 1,2,………, n. Salah satu cara pengukuran konsistensi disarankan oleh Thomas L. Saaty melalui indeks konsistensi (Consistency Index) Cl yang dirumuskan sebagai berikut: Dimana: n=menyatakann kriteria/alternatif yang dibandingkan lmax=nilai eigen (eigen value) yang terbesar dari matrik perbandingan berpasangan orde n. Suatu pendekatan lain yang dapat digunakan untuk memperoleh nilai lmax dapat diformulasikan sebagai berikut : Dimana aij=elemen dari matrik berbalikan Wj=obot dari kriteriaj Jika CI bernilai 0 maka berarti keputusan penilaian tersebut bersifat sama dengan jumlah kriteria yang diperbandingkan yaitun kriteria. Semakin tinggi nilai Cl semakin tingi pula tingkat ketidak konsistensian dari keputusan perbandingan yang telah dilakukan. Indeks konsistensi matrik random dengan skala 9 (1-9) beserta kebalikannya disebut sebagai indeks random (Random Index) RI. Berdasarkan perhitungan Thomas L. Saaty dengan menggunakan 500 sampel diperoleh nilai rata-rata indeks random (RI) untuk setiap ordo matrik tertentu sebagai berikut: Tabel 2.3 Indeks Random ( RI ) Ordo Matrik RI Ordo Matrik RI Ordo Matrik RI 1 0 6 1,24 11 1,51 2 0 7 1,32 12 1,48 3 0,58 8 1,41 13 1,56 4 0,9 9 1,45 14 1,57 5 1,12 10 1,49 15 1,59 (Sumber: Saaty, Thomas L., and Luis G. Vargas, 1994, The Analytical HierarchyProcess Vol. VII : "Decision Making in Economic, Political, Social, Technological Environments, 1st Edition, RWS Publications, Pittsburgh, p.9) Rasio konsistensi CR (Consistency Ratio) dirumuskan sebagai berikut: CR = CI / RI apabila ratio konsistensi (CR) 0,10 maka hasil penelitian dapat diterima atau dipertanggungjawabkan. Jika tidak, maka pengambilan keputusan harus meninjau ulang masalah dan merevisi matrik perbandingan berpasangan.
Friday, April 4, 2008
Formulasi Matematika AHP
Analisa Proses Hirarki
Analytical Hierarchy Process, selanjutnya disebut AHP, merupakan satu model yang fleksibel yang memungkinkan orang per orang atau kelompok untuk membentuk gagasan-gagasan dan membatasi masalah dengan asumsi mereka sendiri dan menghasilkan solusi yang bagi mereka (Saaty L. Thomas, Decision Making for Leaders; The Analytical Hierarchy Process for Decision in Complex World, 1988). Metode AHP dikembangkan awal tahun 1970-an oleh Dr. Thomas L. Saaty dan telah digunakan untuk membantu para pembuat keputusan dari berbagai negara dan perusahaan. Prinsip kerja AHP adalah menyederhanakan masalah komplek yang tidak tenstruktur, strategik dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata variabel dalam suatu hirarki (tingkatan). Kemudian tingkat kepentingan variabel diberi nilai numerik secara subyektif tentang arti pentingnya secara relatif dibandingkan dengan variabel lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tentinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut. Perbedaan antara model AHP dengan model pengambilan keputusan lainnya terletak pada jenis inputnya Model AHP memakai persepsi manusiayang dianggap 'ekspert/ahli' sebagai input utamanya. Kriteria ekspert disini orang yang mengerti benar penmasalahan yang dilakukan, merasakan akibat suatu masalah atau punya kepentingan terhadap masalah tersebut. Pengukuran hal-hal kualitatif merupakan hal yang sangat penting mengingat makin kompleksnya permasalahan didunia dan tingkat ketidakpastian yang makin tinggi. Selain itu dalam AHP diuji konsistensi penilaiannya. Bila terjadi penyimpangan yang terlalu jauh dari nilai konsistensi sempurna maka penilaian perlu diperbaiki atau hirarki harus distruktur ulang. Keuntungan yang diperoleh bila kita memecahkan masalah dan mengambil keputusan dengan menggunakan AHP antara lain: